Selasa, 01 Juli 2008
Jukung yang jingga
di hadapan ombak yang biru tak jelas
di antara rumput langka dan kering
aku mustahil membuat datang aura
dan ku hanya menyapamu...
seraya meminta padaNya
Kamis, 29 Mei 2008
26 mei 2008
Pagi yang cerah
Ku melangkah dengan semangat……
Ku dendangkan lagu riang menjelang
Hembusan nafas busuk membuyarkan niat tuk mengungkap
Oh…
Keraguanku memuncak di ubun-ubun
Namun itu semua itu lenyap dengan sendirinya
Kabur, tenggelam atas kesungguhan niat tuk mengucap
Dari lubuk hati menyapa
Oh…
Pelangi, sudah saatnya ku ucapkan sesuatu
Sekian lama ku rasakan getaran yang samar
Atas mimpiku tuk gapaimu
…………………………………...
Sejenak kau tertunduk seraya berpikir
Bibirmu, menggumamkan keadaan
Pipimu memerah, dengan mata terperanjat
Gerak tubuhmu gelisah heran
Dengan lembut kau bisikkan kata “Maap”
……………………………………
Satu malam, bersama bayangan
Satu batang rokok kuhisap dalam2
Ku hanyutkan diriku dalam nikotin
……
Dengan perasaan yang hampa ku coba leleh
Ku harus tetap tegar dan terus berjuang tuk gapai mimpi itu
Sampai menemukan titik awal sebuah kejelasan yang cerah
Selasa, 01 April 2008
Kertas ku Bernilai Dunia Akhirat
Dalam selembar kertas, ku ganti nilai dengan kenyataan harapan
Dalam selembar kertas, ku sampingkan sebenarnya diriku
Dalam selembar kertas yang tak wujud menjadi nyata
Eh eh eh eh…..
Kertas ku dalam genggaman,semua penghalang rintangan kan hilang…senang
Malaikatpun akan bingung dengan nilai dari kertas ku,Yang maha menjelaskan.
seolah Tuhan telah menyapa ini benar
Ini memang benar!
Atas dan bawah telah samar, kanan kiri membingungkan
Belok kanan samping kiri di bawah atas kesepakatan materi
Senyawa partikel pembawa kebenaran menghiburkan kemudahan
Menawarkan intan emas mutiara hitam bercahaya
He he he he he
Wahai manusia kebinggunan
Datanglah padaku ku akan muluskan jalanmu
Dengan sedikit anggur kenikmatan kau kan lupa dengan jalan
Tapi…….kau akan sampai tujuan
Begitulah……”KATANYA”
Mudahnya mendapatkan dengan sedikit pengorbanan
Telah ku gadaikan akheratku dalam selembar kertas kebenaran
Mengekalkan hak atas amalmu. Kehidupan mengendap
pelahan di rahim sendu selalu
Yang telah disahkan pembuat keputusan
Dan akhirnya tertawaku telah menjadi kehinaan
Bersalahkah diriku, Jujurku telah hilang
Kesetiaan telah bertukar ganti dengan sistem keadaan
Berharap perjalan ini cepat berakhir dengan kedamaian hakiki
Tuk melihat wajah illahi.
Kamis, 21 Februari 2008
Pelangi
Jenuhku menunggu datangnya aura pelangi...
berikanlah arti wahai pelangi
atas keheningan diatas kabut malam
dalam pencarian kerinduan yang dalam.
hangat peluk mu
riang tawa dan canda mu
semangat mimpi mu
memperlihatkan ketegaran dan keindahan warnamu
pelangiku..
dapatkah kau rasakan gelombang yang lelah
dapatkah kau dengarkan alunan nyanyian hati
yang melirih
bisakah kau mengerti akan kebimbangan nurani terdalam
ku menerawang akan kesempurnaanmu
jauh,dalam dan tinggi
yang menghadirkan niat tuk kudekap dalam kesungguhan
dalam dinginnya malam dan sepinya waktu
Kamis, 31 Januari 2008
Impian yang terbuang
penghias jagat raya
rona kharismamu ku tepiskan
demi satu perjalanan panjang
mengarungi samudra kehidupan
yang lebih baik
berat bagiku, tapi............
kenenaran yang kuyakini
akan muncul sebagai penghias kalbu kehidupan
yang dihidupi dengan roh kesucian...............
abadilah cintaku.................
Bintang kejora
dalam gelap engkau telihat oleh mata telanjang
bintang akan tetap jadi bintang
tanpa harus ada cahaya menyinari dirimu
karena dirimulah bintang
tanpa harus membintangi dan dibintangkan
oleh unsur kosmos pembenaran balutan produk pakar
dalam sandiwara pembuat kebaikan
ku lihat anjing
dia adalah suatu kebenaran
dia bangga dengan kebinatangannya
karena dia memang binatang yang binatang
manusia diciptakan oleh tuhan sebagai makluk tertinggi
tapi dengan ketinggian dia berlaku seperti tuhan
membenarkan yang belum tentu benar
menyalahkan yang belum tentu salah
dan sering bertindak seperti hewan
memanusiakan hewan yang sebenarnya hewan
yang sebenarnya seperti manusia
Kesejatian yang sejati
Kesejatian yang sejati
Mudahnya lautan menyimpan segala yang datang
dengan dendang riang, riuh ketepi pantai
simpan semua hingga nampak bisul tumbuh dipalung hati
kecil berkembang, besar tak tertahan
oleh, kuat tanggul baja..........
hancur, kini tlah hancur smua menjadi percikan api
tetap langkah dengan topeng keabadian
dengan wajah baru, jangan hiraukan gonggongan anjing
yang menghembus angin
Laut tetaplah engkau jadi laut
palung jiwa letakan dengan segala kerendahan hati
demi suatu kemulian yang abadi.
Kehormatan yang terbeli
Kehormatan yang terbeli
Kiblatku, kiblat manusia telah berubah
tangisan, rintihan kehilangan kekuatan dan kehormatan
oleh setiap perawan tua di lorong sudut kota
Kehormatanku akan tinggi
jika ku bisa nurut dan membuka lebar dadaku
yang memang sudah tidak kenyal karena telah diambil sari patinya
dan sudah kendor tanpa penyangga
ibu....
ibu.........
ibu................
benarkah ini bu
tiada lagi kepercayaan
yang ada hanya penampilan yang terbungkus sutra
pelibur,penipu mata yang tak jeli...............................
yang ada hanyalah uang
kehormatanku, keperawananku di suntik
oleh silikon kehormatan bangunan megah
tempat tuk pamer kehormatan
aku datang untuk pamer kehormatan
aku datang bawa uang, skali pandang pasti terangsang
Benarkah ni bu......
dimana para orang tua kita
dimana...
dimana................
dimana............................
Apakah kita tetap terus begini
menunggu, mati tanpa perlawanan
apakah kita akan mati kehormatan dan kenikmatan
dapatkah kita merasakan belaain padang ilalang yang tlah lama menghilang
Keterasingan yang abadi
Kutulis ni disaat ku bosan dengan kehidupan yang ada skarang
yang ada hanya kemunafikan.......
Keterasingan yang abadi
Haruskah ku marah........
pada diriku sendiri yang slalu sepi
tekanan darah meninggi
detak jantung memuncak mencapai tingkat orgasme
kesakitan yang belum pernah terjadi.....
ku sudah terhanyut, dan terhimpit
dalam gelapnya siang oleh lantunan kata-kata indah
membuai sekujur tubuh ini.
Ku ingin berlari mencari mata air suci dari noda
belum terusik oleh pikiran kotor manusia
yang memang sudah kotor.
Haruskah aku mengasingkan diri
mencari kesejatian yang abadi
berteman alam yang bisu
jujur dalam sikap dan perbuatan
Selasa, 29 Januari 2008
Besi Tua
ku tetap tenang dalam kesunyian dan keheningan
ku hanya tidak tahu memulai mengejar bayang-bayang yang tak nyata dalam fatamorgana
Rumah kediaman ku bagai singgasana tak berpenghuni
yang ada hanya seonggok keangkuhan gedung tinggi menjulang keatas menusuk ibu pertiwi
Semua berjalan seolah tak terjadi apa2
entah diriku tak tau atau memang gak mau tau kedaan yang terjadi.....
Ku kan tahu pada akhirnya apa yang ku ingin ku gapai
tapi.....
sekarang ku hanya coba berlari dan berlari...
mengejar mimpi